Brand Lokal: Siapa Yang Pantas Disebut Sebagai Brand Lokal?

Brand Lokal: Siapa Yang Pantas Disebut Sebagai Brand Lokal?


Apa itu brand lokal?


Beberapa waktu lalu Pemoeda mendapatkan sebuah perbincangan menarik dengan salah satu netizen di Instagram.


Perbincangan yang dimulai dengan kalimat “Guys kalian tau kan ini bukan “local brand” kan? Ini barang import yang dijual sebagai brand local” dikutip dari perbincangan tersebut.


brand lokal bukan


Ia mengklaim bahwa salah satu brand pada Instagram-story Pemoeda adalah bukan brand lokal. Makasih banget bro udah ngasih tau tim Pemoeda. Sampai akhirnya kita memutuskan untuk mengangkat topik ini.


brand lokal


Hal ini sangat menarik buat tim Pemoeda untuk diperbincangkan lebih panjang. Karena pasalnya, memang banyak sekali masyarakat yang pemahamannya akan brand lokal adalah sebuah brand asal Indonesia yang membuat produknya di dalam negeri.


Terus apa definisi yang tepat untuk brand lokal? Mengetahui tidak ada regulasi yang jelas yang mengatur hal ini.  


Asumsi Yang Ambigu Tanpa Ada Regulasi Atau Yang Jelas Tentang Brand Lokal


Kami ngga bilang ini salah, asumsi ini benar adanya. Tapi ternyata mungkin arti brand lokal itu jauh lebih luas daripada yang diasumsikan. Asumsi yang mungkin terlalu sempit secara penjabarannya.


Menurut netizen tersebut, sebuah brand yang menggunakan embel-embel “.id” dan/atau “hasil karya bangsa” itu berarti harus sebuah brand yang memproduksi barang-barang dagangannya di dalam negeri.


brand lokal dan produk lokal


Apakah ini benar menurut lo bro? Pikirin deh, hmmm… Kata kata HARUS itu menyatakan sesuatu keadaan yang tidak bisa tidak, kalau tidak… maka bukan… Sebentar-sebentar, coba kita sama-sama teliti lebih dalam mengenai konteksnya.


Kalau kita mencoba memahami konteks “brand lokal” sendiri, frasa ini sama saja dengan frasa brand asal Indonesia. Iya ngga sih? Brand / merek yang tercipta, berasal, ditemukan, dibuat, dibikin, disusun di negara Indonesia tercinta ini.


Emang lo bener banget, ketika berpikir bahwa brand lokal itu adalah merek yang diciptakan di Indonesia, dimiliki sahamnya secara mayoritas oleh orang lokal, dan produk yang produksi oleh brand lokal tersebut adalah produk yang 100% lokal, merek tersebut emang udah pasti merek lokal Indonesia.


Tapi apa cuma brand dengan kualifikasi seperti ini yang bisa disebut dengan brand lokal? Pernah ngga terlintas di pikiran lo ternyata ada kemungkinan  bahwa brand yang ngga produksi di Indonesia juga bisa disebut sebagai brand lokal?


Ngga ada peraturan yang jelas mengenai definisi brand lokal. Inilah masalahnya. Sehingga banyak dari kita terpaut dalam asumsi, bahwa brand lokal itu harus memproduksi barang secara lokal juga. Masalahnya, ternyata tidak harus.


brand lokal banyak


Definisi yang berasal dari asumsi tersebut hanya bersifat sebagai bagian dari definisi “brand lokal” sesungguhnya. Di dalam asumsi ini terdapat ambiguisme yang berkaitan dengan definisi “produk lokal” dan mendorong orang menuju ke pemikiran yang sempit mengenai definisi brand lokal.


Brand Lokal 99% Komponen Dari Luar


Sudah lumrah yang namanya brand lokal itu menggunakan material dari pihak asing. Zyrex contohnya, yang merupakan merek laptop asal Indonesia.


Masih menggunakan komponen luar, sedangkan di Indonesia-nya sendiri hanya melakukan kegiatan produksi berupa perakitan [1]. Apa iya kita ogah menyebut Zyrex sebagai brand Indonesia karena mereka menggunakan mayoritas komponen dari Tiongkok?


zyrex


Mungkin Zyrex masih memiliki TKDN (Taraf Komponen Dalam Negeri) yang cukup tinggi? Ngga juga bro, sertifikat TKDN 30% tidak berlaku untuk laptop atau notebook, hanya perangkat seperti handphone 4G aja yang kena peraturan TKDN [2,3].


Hmmm, kalo brand asal Indonesia yang 100% produksi, perakitan, & komponen semua dari luar, ngga bisa kita sebut sebagai brand lokal, lalu apakah kita akan menganak tirikan para pemuda Indonesia yang mencoba membuat brand dengan kategori jam tangan?


Jam Tangan Lokal Belum Bisa 100% Lokal


Investasi yang diperlukan untuk memproduksi movement jam tangan di Indonesia, berdasarkan interview tim Pemoeda terhadap salah satu brand asal Indonesia yang memproduksi jam tangan di luar, adalah mustahil.


Secara infrastruktur Indonesia sudah tidak siap, bukan dari komponen saja, tapi juga dari tenaga ahli di bidang tersebut.


Terutama individual-individual yang membuat merek lokal itu pada umumnya adalah anak-anak muda. Bahkan modal untuk membangun pabrik perakitan di dalam negeri saja mungkin sudah tidak terjangkau oleh para pemuda pada umumnya.


Solusinya untuk bisa meningkatkan kadar dalam buatan negeri untuk jam tangan paling-paling hanya menggunakan tali jam tangan buatan lokal, membuat casing dari kayu, dan memasukkan biaya kemasan kepada harga jual.


bukan jam lokal


Padahal bagi banyak penggemar jam tangan, jam tangan kayu itu tidak untuk digunakan ke berbagai event.


Salah satu kelemahan utama jam kayu adalah tidak bisa water resistant, paling mentok biasanya adalah fitur splash proof. Kayu itu ada pori-pori yang bisa rembes air. Menjadikan jam tangan kayu tidak mumpuni untuk berbagai kegiatan.


Terus gimana Indonesia bisa memiliki brand jam tangan dresswatch lokal, kalau para pemudanya tidak diperbolehkan untuk memproduksi diluar negeri?


Tentunya tidak mungkin mereka membuang aspirasi mereka yang luar biasa, untuk mengembangkan industri jam tangan di Indonesia, sehingga mungkin suatu hari nanti mereka bisa memproduksi movement, casing, dial, dan sebagainya secara lokal.


Mereka harus mulai dulu dari suatu tempat dari awal… Berjualan, lalu kemudian mendapatkan modal yang lebih besar dari keuntungan, baru aspirasi tersebut bisa mungkin terwujud di masa depan.


Brand Lokal = Produk Lokal?


“Produk dalam negeri adalah barang/jasa termasuk rancang bangun dan perekayasaan yang diproduksi atau dikerjakan oleh perusahaan yang berinvestasi dan berproduksi di Indonesia, yang dalam proses produksi atau pengerjaannya dimungkinkan penggunaan bahan baku/komponen impor”.


Bacaan diatas, adalah penjelasan Kemenperin tentang apa itu produk dalam negeri yang dikutip dari Permenperin No.16 Tahun 2011. Dari penjelasan tersebut kita bisa mendapatkan beberapa kesimpulan:


1. Perusahaan asing bisa membuat produk “Made in Indonesia”.


2. Produk “Made in Indonesia” bisa mengandung bahan baku atau komponen dari negara asing.


3. Perusahaan lokal bisa menggunakan bahan baku impor dan masih bisa menyebutnya produk “Made in Indonesia”


Pada dasarnya, memang kata “merek” dan kata “produk” itu adalah dua hal yang sangat berbeda. Sebuah merek bisa berasal dari Jepang, dan memproduksi barangnya di Indonesia. Tapi Percaya deh, orang Jepang akan menyebut merek tersebut sebagai merek asal Jepang.


uniqlo made in indonesia


Buktinya, lo bisa temuin brand-brand internasional yang sudah malang melintang secara global, seperti Nike dan Uniqlo, bahkan smpai Zara dan H&M, mereka bisa menuliskan Made in Indonesia pada label pakaian jadi yang mereka jual.


Pertanyaannya, apakah dengan menuliskan Made in Indonesia mereka jadi brand lokal Indonesia?


Jawabannya pasti nggak. Karena memang pada dasarnya saham perusahaan asing tersebut dimiliki oleh orang asing, dan perusahaan-perusahaan tersebut ditemukan dan diciptakan di luar negeri. Mau produksi dimanapun, Nike tetap menjadi sebuah brand asal Amerika Serikat yang lahir di Oregon.


Sekarang kita balik, apakah sebuah brand asal Indonesia yang produksi dan manufaktur 100% di Thailand tidak pantas disebut sebagai brand Indonesia, atau brand lokal?


Seharusnya mereka pantas dan layak disebut sebagai brand lokal, karena memang merek tersebut berasal dari Indonesia dan dimiliki oleh orang Indonesia. Terlepas dari dimana produk mereka dibuat dan dimanufaktur.


Karena brand lokal secara pemahaman, tidak berarti adalah merek yang secara eksklusif selalu memproduksi barang-barangnya secara lokal juga. Tapi adalah merek-merek yang sahamnya mayoritas dimiliki oleh orang Indonesia, dan terlahir pula dari ide orang Indonesia.


Produk lokal tidak sama dengan brand lokal, dan brand lokal tidak harus membuat produk secara lokal.


Menurut kami, Inilah yang seharusnya dimengerti. Terdapat perbedaan signifikan antara kedua hal tersebut, jangan sampai tercampur aduk dan membuat asumsi dengan penjabaran yang sempit.


Brand Lokal Yang Sempurna Adalah Yang Memanfaatkan Sumber Daya Dalam Negeri


Pada akhirnya, TKDN lahir kedunia untuk membudidayakan sumber daya, kreatifitas, tenaga kerja, dan keterampilan orang-orang Indonesia. Tidak bisa ditampik, bahwa TKDN memang ada untuk meningkatkan ekonomi rakyat, memperkuat industri-industri di Indonesia dan meningkatkan produktifitas bangsa.


Pemerintah sudah mencoba melindungi dan meningkatkan kondisi perekonomian bangsa ini dari penjajahan ekonomi bangsa asing. Bayangin, tanpa TKDN, berapa banyak aliran uang yang bocor ke negara asing bro? Uang yang seharusnya bisa memberikan makan kepada banyak orang di dalam negeri.


Makanya, memang sudah menjadi kewajiban kita para pemuda Indonesia untuk justru memperkuat dan mempraktekkan regulasi tersebut dengan membudidayakan sumber daya dan keterampilan dari dalam negeri.


Sehingga, kesimpulannya menurut kami tim Pemoeda…


Brand lokal memang cukup luas definisinya. Pada intinya brand lokal adalah sebuah merek yang dimiliki sahamnya secara mayoritas oleh orang Indonesia, dan terlahir karena ide orang Indonesia.


Dimana mereka memproduksi barangnya atau asal muasal komponen dan bahan bakunya bukan jadi masalah untuk menjadi sebuah brand lokal.


Namun brand lokal yang paling sempurna dimata kami, adalah brand lokal yang memanfaatkan sebanyak mungkin sumber daya dalam negeri, dan setia dalam memberdayakan kreativitas anak bangsa.


1. Laptop RI Kalah Saing Dengan Produk Impor, Ini Sebabnya - https://finance.detik.com/industri/d-3977167/laptop-buatan-ri-kalah-saing-dengan-produk-impor-ini-sebabnya

2. Laptop 4G Dijamin Tidak Akan Tersandung TKDN -https://www.liputan6.com/tekno/read/3237508/laptop-4g-dijamin-tak-bakal-tersandung-tkdn

3. Regulasi Terkait TKDN -  http://tkdn.kemenperin.go.id/Permenperind_No.16_2011.pdf