Kenapa Beli Lokal? - Aliran Uang Ketika Membeli Produk Asing VS Produk Lokal

Kenapa Beli Lokal? - Aliran Uang Ketika Membeli Produk Asing VS Produk Lokal

Kenapa Orang Indonesia Beli Brand Asing?


Faktor pertama adalah kepercayaan akan konsistensi kualitas. Memang brand asing pada umumnya memiliki produk yang diakui bagus secara kualitas dan selalu konsisten.


Walaupun sedikit mahal, tapi karena kualitas brand tersebut sangat baik dan awet, kita akhirnya merasa ini adalah investasi yang baik untuk digunakan selama setahun atau dua tahun kedepan.


Akhirnya kita beli kemeja dari Uniqlo, dan sepatu Adidas untuk tampilan smart casual sehari-hari.


adidas nike


Sebaliknya, banyak dari kita yang paham juga bahwa banyak sekali brand lokal memiliki kualitas yang sangat baik.


Namun ngga jarang dari kita yang memberi cap “brand lokal” itu sebagai satu kelompok yang merepresentasikan satu sama lain dalam buruknya kualitas. “Ah brand lokal itu suka ngga bagus kualitasnya..” Pernah dengar celetukan ini?


Faktor Kedua meliputi social currency atau mata uang sosial. Bahasa gampangnya gengsi bro. Umumnya, orang itu pengen mendapatkan impresi yang baik / positif di depan orang lain. Dimana produk-produk dari brand asing pada umumnya memiliki gengsi yang lebih tinggi. Nah seperti kita menggunakan mata uang Rupiah untuk beli barang, mata uang sosial ini digunakan untuk mendapatkan feedback / impression positif dari orang-orang disekitar. Untuk membeli sebuah status.


gengsi definisi


Terutama karena brand-brand ini ada dimana-mana dan sudah sangat terkenal. Harganya juga ngga murah, dan ini adalah salah satu yang bikin sebuah produk itu bergengsi. Ngga semua orang bisa beli barang bergengsi, karena barang bergengsi itu mahal. Yang mampu beli barang mahal itu cuma “orang mapan” yang berstatus. Ini berlaku terutama bagi brand-brand asing kelas atas seperti Louis Vuitton, Rolex, Cartier, Chopard, dll.


Faktor yang Ketiga adalah mudah dibeli dimana-mana. Faktor yang selalu kita lihat jelas dengan mata kepala kita, namun sayang tidak pernah disadari. Inilah yang maksud lain dari pepatah, “Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak”. Lo pasti pernah dong ke mall? Disana lo bisa hitung dengan jari, berapa toko brand lokal yang berdagang dan membuka kios. Lalu apa efeknya?


toko uniqlo


Ini menunjukkan bahwa brand asing menempati posisi-posisi strategis dalam peperangan pasar tanah air. Sangat strategis sampai-sampai brand lokal saat ini terlihat seperti sedang bergerilya seperti sedia kala.


Inilah yang menjadi kelemahan brand lokal Indonesia.


Mayoritas dari mereka tidak memiliki tempat (atau belum mampu) di pusat pusat perbelanjaan strategis. Pasalnya, terlalu banyak orang yang masih sulit membeli barang fesyen tanpa mencoba dan menyentuh bahannya dulu.


(P.S kesimpulan ini dihasilkan dari melakukan survey pada Maret 2019 "30 Detik Bersama Brand Lokal" yang diadakan oleh Pemoeda, dimana 819 orang berpartisipasi).


Bagian 2 – Oke, Jadi Kenapa Lo Harus Beli Brand Lokal dan / atau Produk Lokal?


Masalah utamanya adalah aliran uang mengalir ke luar negeri. Uang itu selalu mengalir, tapi kemana aliran uang itu pergi? Yang menentukan itu ternyata adalah kita sendiri.


Efek dari aliran uang ini juga berdampak pada banyak hal bro. Positif & negatif dampaknya juga bisa dirasakan oleh kita semua sebenernya, hanya saja mungkin kita belum sadar.


Kita coba jelasin dengan contoh sangat simple. Cerita yang akan kita mulai dari brand A yang berasal dari Jepang. Jadi gini…


onitsuka tiger sepatu dari jepang


Sebutlah brand A, yang berasal dari Jepang. Mereka produksi sepatu yang 100% Made in Japan. Sepatu ini menggunakan material kanvas, sol, label, dan tali yang semuanya dibuat oleh supplier asal Jepang.


Sebelum produksi sepatu, mereka beli material-material sepatu itu dan bayar kepada supplier material asal Jepang tadi. Modal yang digunakan untuk beli material untuk 1 sepatu adalah 50.000 IDR.


Mereka beli bahan untuk 1.000 sepatu. Total pengeluaran adalah 50.000.000 IDR untuk beli material aja, belum dipasang jadi sepatu.


Ketika produksi / manufaktur sepatu, mereka menghitung bahwa biaya manufaktur 1.000 sepatu (menjahit, ngelem, masang) di pabrik Jepang adalah total 100.000.000 IDR dan akan selesai dalam sebulan.


Berarti satu sepatunya butuh 100.000 IDR untuk di manufaktur.


Nah kembali lagi menghitung modal. Sehingga untuk membuat 1.000 sepatu ini dalam sebulan dibutuhkan modal 100-juta + 50-juta, total 150-juta.


Kalau modal 1.000 sepatu adalah 150-juta, maka untuk satu sepatu dibutuhkan 150.000 IDR untuk dibuat kan? Paham ya?


modal bikin sepatu


Ketika mau menjual, mereka tentukan harganya adalah 1.000.000 IDR per-pcs. Dan mereka akan ekspor ke Indonesia. Dimana alokasi pendapatan 1.000.000 untuk 1 sepatu itu ternyata udah dibagi menjadi beberapa bagian, seperti yang bisa lo liat pada tabel dibawah:


table


Total Omset yang diperoleh oleh perusahaan Jepang ini adalah 1 miliar Rupiah bro untuk 1.000 pcs sepatu. Ternyata sepatu ini laku dan habis dalam 1 bulan di Indonesia.


Nah dari situ, 36% mengalir di Indonesia, yaitu; untuk 3 pegawai, biaya marketing & biaya operasional kantor lokal di Indonesia. Sedangkan 64% akan kembali ke Jepang. Dimana dari 64% yang mengalir ke Jepang, sebanyak 15% adalah  modal bikin sepatu, kemungkinan besar akan digunakan lagi untuk modal sepatu batch ke-2.


Uang Mengalir Ke Supplier, Serta Pabrik Asing Yang Akan Semakin Berkembang Dan Negara Tersebut Semakin Makmur


Disini berarti supplier-supplier material di Jepang akan mendapatkan masukkan dana lagi, begitu juga pabrik produksi sepatu yang digunakan oleh Brand A. Hal ini secara tidak langsung akan menjadi uang yang digunakan untuk perkembangan supplier & pabrik tersebut.


perputaran uang


Yang sangat kasat mata adalah fakta bahwa :


Supplier & pabrik produksi ini juga akan menggaji karyawannya (i.e. orang Jepang) yang kemudian uang gaji tersebut akan digunakan untuk membeli barang-barang di Jepang. Untuk makanan sehari-hari, beli pakaian, transportasi, dan sebagainya. Terjadilah perputaran uang di Jepang, ekonomi orang-orang dan keluarga Jepang semakin sehat.


Percaya atau ngga, itu adalah uang lo dan gw broo... yang dipake sama orang Jepang. Uang yang kita gunakan untuk membeli sepatu dari Brand A tadi bro!


Uang Mengalir Menjadi Dana Brand Asing Untuk Mengalahkan Produk Saingan, Bagaimanapun Caranya. Produk Saingan Itu Berarti Juga Termasuk Produk Buatan Tangan Pemuda-Pemudi Indonesia.


Kalau barusan kita bicara 15% dari total 64% yang masuk ke Jepang, sekarang kita bicara 49% sisanya. Sebanyak 49% yang merupakan untung bersih, adalah kesempatan emas untuk brand A untuk memilih mau digunakan untuk apa?


mengalir ke jepang


Yang harus kita sadari disini adalah bahaya-nya, dimana sudah pasti 49% digunakan untuk memperbesar brand A. Untuk mengembangkan brand, mereka bisa melakukan beberapa hal sekaligus:


1. Mulai masuk ke pasar baru, yaitu ekspor ke negara baru. Berarti menyiapkan biaya operasional di negara tersebut, dan juga bikin stok produk untuk di negara tersebut.

Efeknya ke brand lokal – Brand A akan semakin terkenal di mancanegara dan akan diakui sebagai brand internasional. Sehingga mata uang sosial (social currency) brand lokal ini semakin tinggi di mata calon pembeli nasional. Social currency yang tinggi adalah kesukaan pasar Indonesia. Sehingga kemungkinan brand lokal akan tergeser secara pamor dan kemungkinan penjualan.


2. Memperbanyak varian produk. Kalau tadi ada 1 artikel / SKU aja, sekarang mereka bisa nambah jualan 2-3 artikel / SKU lagi. Sehingga omset mereka akan lebih tinggi lagi.

Efeknya ke brand lokal – Market share (penguasaan pasar) brand lokal akan semakin tergeser, karena semakin banyak pilihan yang datang dari brand A, maka varian-varian ini akan juga masuk ke dalem pikiran lo, dan mempengaruhi keputusan pembelian lo ketika mau beli sepatu. Ketika sepatu-sepatu ini dibeli orang Indonesia, maka setiap pembelian adalah hilangnya kesempatan brand lokal untuk menjual sepatu juga.


3. Memperbesar budget marketing mereka, agar brand awareness mereka lebih tinggi dan ini akan menggaet para pembeli dari seluruh Indonesia.

Efeknya ke brand lokal – Kesadaran merek (brand awareness) untuk brand A akan semakin besar. Walaupun tidak semata-mata memperkecil kesadaran merek untuk brand lokal, tapi asal lo tau aja bro, kesadaran merek lokal itu dari awal ngga besar. Dari interview tim Pemoeda dengan 70 orang lebih sebelumnya, hanya 5 orang yang bisa menyebutkan lebih dari 10 brand lokal diluar kepala. Padahal itu kita interview di Jakcloth 2018 & Brightspot 2018.


4. Memperluas saluran penjualan. Lo tau kan kalo jualan di mall itu mahal? Inilah kenapa jarang banget ada brand lokal di mall-mall terkenal di Indonesia. Karena kita rajin banget beli produk brand asing.

Efeknya ke brand lokal – Akhirnya brand lokal bergerilya dimana-mana mencoba mencari penjualan dari kita semua. Karena tempat- tempat strategis di mall udah diduduki oleh brand asing. Jujur karena banyak banget yang bisa bayar mahal, jadinya sekarang harganya udah terlalu mahal untuk brand- brand lokal masuk dan punya kios sendiri. Brand asing seperti brand A jadi lebih mudah untuk diperoleh dibandingkan brand lokal.


5. Mempebesar kantor lokalnya di Indonesia atau di Jepang. Dengan orang-orang lokal yang “mengerti pasar” Indonesia dan pasar negara lain, brand A bisa memiliki strategi-strategi jitu dan jaringan kenalan yang lebih luas dan mumpuni. Mereka bisa membuat PT. mereka sendiri, dan mempekerjakan CEO, CMO, COO, dan sebagainya beserta puluhan pegawai di dalamnya.

Efeknya ke brand lokal – pastinya ini timpang banget dengan brand lokal yang pada faktanya banyak yang solo player. Alias anak SMA / kuliah / baru lulus kuliah, bikin kaos atau clothingan terus jualan dengan skill seadanya, dan semua dikerjain sendiri. Gimana caranya brand lokal kecil bisa lawan para profesional yang udah punya pengalaman puluhan tahun di bidang retail?


Masih banyak banget yang bisa dilakukan oleh brand A untuk memperbesar bisnisnya dan mengalahkan saingannya. Siklus ini akan terus berputar sampai pada akhirnya brand A menjadi brand yang sangat terkenal dan menjadi raksasa internasional.


Sekarang lo bayangin, itu baru 1 brand asing. Ada berapa brand asing yang lo tau kalo sekarang kita suruh sebutin? Diatas 20 pasti ada. Terus, berapa brand lokal yang bisa lo sebutin diluar kepala? Ini adalah efek dari kejadian diatas yang terjadi secara perpetual / kontinu.


Kita ini sedang berperang bung! Dijajah namun merasa bahagia. Para pemuda Indonesia belum bangkit, masih terlelap dalam tidur panjangnya masing-masing.


Bayangin kalau semua cerita tadi adalah tentang brand lokal? Ada berapa banyak lapangan pekerjaan yang bisa dibuka oleh orang Indonesia sendiri?


Vendor-vendor di Indonesia tidak lapar proyek, brand lokal terus mendapatkan penjualan, penjual material selalu mendapatkan order, pabrik bahan bisa terus memproduksi, pegawai dari hulu ke hilir dapat digaji cukup dan tidak terancam PHK. 


Negara Mandiri, Makmur, Masyhur, dan Permai.


Mau tidur sampai kapan Bung?